Yuk, Budayakan Membaca Alquran

Oleh : Almiya Safitri
Guru SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Dengungan lafaz-lafaz Alquran memenuhi sebuah kelas pembelajaran Alquran SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto. Tiap-tiap siswa tampak sedang membuka Alquran dan khusyuk dengan hafalan dan bacaannya.

Kusapa mereka dari hatiku, “Teruslah semangat, wahai generasi Islam! Karena peluh dan lelahmu kan digantikan dengan rumah indah di surga kelak oleh Allah, mahkota kehormatan akan Allah hadiahkan kepada kedua orangtuamu. Jadikanlah Alquran sebagai temanmu sehingga kau mencintainya dan Allah pun akan mencintaimu karenanya!”

Dalam Alquran, ayat 17 dan 18 Surah Alqiyamah Allah berfirman, “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”

Selain itu, menurut Ibnu Khaldun (2002), Alquran perlu dipelajari dan dibaca oleh anak-anak pada masa awal karena membaca Alquran akan menanamkan benih-benih keimanan ke dalam jiwa anak-anak.

Yusuf Qardhawi (2010) menegaskan di antara manfaat membaca dan menghafal Alquran pada masa kanak-kanak adalah dapat meluruskan lidah, membaca huruf dengan tepat, dan mengucapkannya sesuai dengan makhraj hurufnya.

Ada beberapa tips bagus yang penulis kumpulkan, hasil dari wawancara dengan beberapa orang tua. Sebenarnya, bagaimana cara agar anak mencintai Alquran dan terbiasa dengan membaca serta menghafal sehingga anak tidak menganggapnya sebagai beban?

 

Orang tua 1;

“Membangun kebiasaan yang baik seperti cinta Alquran memang cukup sulit pada awalnya. Kami, saya dan ayahnya anak-anak, memang harus konsisten dengan jadwal baca Alquran anak-anak. Paling telaten itu ayahnya anak-anak, setiap habis magrib sampai isya pasti anak-anak baca Alquran dan hafalan surat-surat pendek dengan ayahnya.

“Selain itu, anak kalau minta uang Rp. 500,- ayahnya akan kasih jika sudah membacakan hafalan satu surat. Saya bisa dimarahi kalau ngasih uang ke anak tanpa meminta hafalan. Nah, jika mintanya Rp 1.000,- ya hafalannya dobel, dua surat. Atau anak minta es krim, harganya Rp 2.000, ya saya bilang kalau Rp. 2.000 berarti lima ratusnya ada berapa? Nah, hafalannya tinggal dikalikan,”

 

Orang tua 2;

“Agar anak-anak cinta Alquran, kuncinya memang pada kami, orangtuanya. Kami orang tua sudah menjadwal secara khusus pukul 18.30 sampai Isya, kurang lebih adalah Time for Quran, itu tiap hari.

“Kita modelnya mengajak anak berinteraksi dengan Alquran. Bukan sekadar memerintah. Ya, kalau mengajak memang kesannya kan lebih ringan. Mereka tidak sendirian baca Alquran, tetapi kami semua pegang Alquran. Misal, Ayah menyimak kakaknya sementara saya menyimak adiknya. Atau kadang juga saya dan anak-anak hafalan sendiri-sendiri di ruang tamu bersama-sama, sementara ayah di tempat salat. Ya, begitulah, jadi memang kalau sudah jalan enak. Kita enggak usah menyuruh anak-anak, sudah pada tahu. Jam segitu ya untuk tadarus Alquran bareng-bareng.”

 

Orang tua 3;

“Ehm… Hafalan Alquran saya dulu diajari oleh bapak. Kalau ingat, ya lucu sendiri. Pas disuruh setoran Attakatsur ke bapak, saya nggak lancar. Terus nangis. Kalau kakak saya, lancar. Memang dulu bapak tegas banget. Magrib pokoknya dipakai untuk belajar Iqro’ dan hafalan juz Amma’. Tiap hari begitu.

“Kalau belum belajar Iqro’ dan hafalan, saya sama kakak enggak akan boleh main atau nonton TV di rumah tetangga. Dulu memang jarang ada TV juga sih yah. Mungkin karena itu juga kita enggak banyak godaan saat menghafal juz 30. Selain itu, bapak juga ngajarin hafalan tiap pagi. Pukul 05.00 kurang lebih, bada Subuh bapak mengajak jalan-jalan saya dan kakak. Udara masih segar, ditambah sawah di kanan-kiri jalan, sejuk. Sambil jalan, bapak bacakan saya dan kakak sepotong-sepotong ayat, terus begitu. Kami berdua menirukan. Enggak terasa pas disuruh ngulang bareng-bareng dari awal sudah hafal.”

Ustaz Shofwan, pendiri Ma’had Daar Alquran Alkariim di daerah Baturraden pernah berpesan kepada siswa-siswi kelas percontohan SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, “Persepsi kita terhadap sesuatu akan mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengannya. Termasuk persepsi ringan jika kita menghafalkan Surat Al Ikhlas dan Al Kautsar. Maka, begitu pula surat-surat lain akan terasa ringan jika kita persepsikan ringan sebagaimana surat Al Ikhlas dan Al Kautsar dan mengulang-ulangnya hingga hafal di luar kepala, itulah metode tahfidz Al Kautsar.”

Demikian beberapa tips yang mungkin bisa kita tiru dalam membiasakan anak agar cinta dengan Alquran. Bagaimana pun, anak pasti akan meneladani dan meniru apa yang biasa ia saksikan, dan dibudayakan di rumah, serta di sekolahnya. Oleh karena itu, mari kita bantu anak-anak kita membangun kebiasaan untuk mencintai Alquran, dimulai dengan mengajaknya membiasakan berinteraksi dengan Alquran sehingga menjadi menu sehari-hari dan tiada beban ketika melakukannya.

Wallahu a’lam bis showaab.[]


Sumber : Majalah Remaja Muslim Edisi 05 | Desember 2016

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*