Tetesan Air Kehidupan

Radiant Wallpapers Collection 04Oleh : Faiza Tsurayya
Siswa Kelas 8 SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Namaku Fahmi. Hari itu saatnya di mana wajah ceria antara ibu dan diriku akan terpancar. Kebahagiaan ini melebihi kebahagiaan apapun di dunia. Keluargaku berasal dari keluarga sederhana dan kesederhanaan ini yang membawaku menuju mimpi.

Saat aku meringkuk menunggu kelahiran adikku, seorang perawat keluar dari balik pintu menggendong adikku di pelukannya. Namun, tak kudengar suara tangisan bayi sedikit pun. Aku melangkah mendekati dirinya seraya meminta penjelasan mengapa adikku tidak menangis. Hal ini memang sulit diterima. Akupun masuk kamar dan duduk di samping ranjang ibu. Tampak butiran air mata menetes pelan di pipi ibu. Sambil tersenyum, ibu mengusap lembut kepalaku. Perlahan ibu memelukku dan mengatakan,

“Semua yang terjadi bukan kebetulan, namun kenyataan yang harus dihadapi dengan keikhlasan,” ucapnya dengan nada lembut.

Dua hari kemudian, ayah dan aku menjemput ibu pulang.

Rafa. Ia lelaki dan adik yang tidak sempurna pendengarannya sehingga membuatnya tidak bisa bicara. Hari-hari yang dilalui Rafa penuh dengan tantangan. Ejekan dan tertawaan baginya adalah tantangan sebenarnya. Rafa semula hanya menangis, namun ia berubah jadi kuat saat duduk di bangku SD. Dalam dirinya terdapat kebahagiaan, melebihi rasa penyesalan. Ia selalu berusaha belajar memahami bahasa tubuh orang lain, hingga ia dapat mengerti apa yang mereka katakan.

***

Suatu hari, hujan mengguyur desaku. Kulihat Rafa tampak senang memandangi hujan dari balik jendela. Aku berinisiatif untuk mengajaknya main bola keluar dan hujan-hujanan. Wajah, senyuman, dan tawanya mengingatkan ku pada seseorang yang juga menyukai hujan. Ayah.

Saat aku kecil, ayah pernah menggendongku di pundak dan membawaku mengelilingi taman kecil depan rumah sambil hujan-hujanan. Sekarang dia sudah tiada, namun kebaikannya selalu melekat pada diri kami.

Hujan yang semula deras, dalam 30 menit berubah menjadi tetesan air. Aku dan Rafa menuju rumah, berganti pakaian, dan bersiap untuk belajar. Saat aku selesai berganti pakaian, tiba-tiba aku teringat untuk mengambil buku yang kuletakkan di kamar ibu kemarin. Aku pun bergegas mendekati ibu yang berada di dapur, untuk meminta izin padanya.

“Ibu…, boleh ya kakak ambil buku di kamar ibu. Boleh kan, bu?” Aku berusaha merayu ibu, agar aku dizinkan mengambil bukuku.

“Boleh…, Fahmi,” balas ibu singkat sambil terus mencuci sayur untuk dimasak.

Saat aku mencari buku di meja ibu, tak sengaja kutemukan buku lama yang penuh dengan debu. Dengan rasa penasaran, kutiup perlahan debu tersebut, aku bersihkan buku itu dengan tangan, dan kubuka lembaran buku itu satu demi satu.

“Ini…Ini buku peninggalan ayah. Ternyata…, ibu masih menyimpannya.” ucapku dalam hati dan melangkah keluar dari kamar Ibu.

Aku berniat menyimpan buku itu sebelum kuberi tahu ibu. Buku ayah kuletakkan di dalam lemari, akan aku baca sebagai pengantar tidur hari ini. Ayahku sudah lama meninggal dunia karena penyakit kanker, saat aku berusia 7 tahun, dua tahun setelah Rafa lahir.

Malam itu setelah selesai belajar. Diam-diam aku baca buku milik ayah hingga larut malam. Kupahami setiap kata yang ayah tuliskan pada lembaran itu.

Pagi harinya setelah semua orang terbangun dan bersiap untuk sarapan. Terlintas dalam pikiranku untuk membacakan apa yang aku baca dari buku semalam. Aku berharap Rafa mengerti apa yang aku katakan. Aku akan membacanya dengan gerakan tubuh semampuku dengan lantang.

“Ibu…, Rafa…, saksikan persembahan SPESIAL dari Mr. Fahmi….” Dengan bahasa semampuku, kucoba membuat semua mengerti.

Mmm…, inilah arti kehidupan. Di mana hidup kita bagai tetesan air dan air itu berusaha mengubah batu besar menjadi kecil. Memang tak mudah, tetapi air itu tetap berusaha mencapai impian yang terlihat sulit.

“Dari mana kakak mendapat bahasa seindah itu?” tanya Rafa, dengan isyarat tangan yang mengartikan apapun yang ingin ia katakan.

Aku berusaha memahaminya. Ibu hanya butuh waktu sekejab untuk menjawab pertanyaan Rafa. Karena kata-kata itu masih ia ingat hingga saat ini.

“Rafa…, itu kata-kata milik ayahmu. Itu sudah sangat lama sekali.”

Dengan penjelasan singkat dari ibu, Rafa tersenyum manis. Aku pun memberikan buku yang aku pegang kepada ibu. Ibu tampak tidak kesal, tapi aku tahu dalam hatinya pasti ada rasa kesal padaku.

Aku menghela nafas panjang setelah semua berlalu. Kini aku dan Rafa bergegas menuju sekolah. Seperti biasa, aku mengantarkan Rafa terlebih dahulu, kemudian menuju sekolahku untuk belajar. Siangnya, aku pulang cepat karena menjadi yang tercepat dalam mengerjakan soal dari guru. Lapangan tempat biasa aku bermain, kini aku kunjungi. Dengan pesawat kertas sederhana, di dalamnya kutuliskan impian-impianku, kemudian kuterbangkan ke atas langit.

“Sampai mana pun angin membawa pesawatku, aku percaya impian tak akan jauh dariku,” ucapku dengan tekad yang kuat.

Setelah aku terbangkan pesawat kertasku, aku ingat pada siang seperti ini pernah dahulu menerbangkan pesawat kertas bersama ayah. Aku merasa kangen pada ayah, jadi kulangkahkan kaki menuju pemakaman umum tak jauh dari lapangan.

Saat mendekati makam ayah, terlihat sosok anak kecil bersama seorang wanita di dekatnya. Dengan langkah perlahan kudekati mereka. Tak kusangka mereka adalah Rafa dan ibuku.

“Kakak!”

“Ada apa Rafa? Kok kamu bersedih?”

“Jangan menangis, Nak!” Ibu berusaha menenangkan Rafa

“Rafa…,  kamu tidak boleh bersedih. Saat kamu bersedih, ayah juga akan bersedih di sana. Tenang! Kakak dan Ibu akan selalu ada buat kamu. Iya kan, Bu?” Dengan pelukan hangat pada Rafa, kucoba membuatnya tidak bersedih. Ibu hanya tersenyum melihat kami sangat dekat.

Tak lama kami di makam ayah. Kami menuju rumah. Saat di perjalanan kami berbincang-bincang. Tema yang kami bicarakan tetap sama yaitu AYAH. Kami berusaha mengenang kebaikan yang ayah lakukan. Keluarga kami bahagia di atas semua kekurangan yang ada. Karena kami selalu berada di dekat Tuhan semesta ini yaitu, Allah Swt.[]


Dimuat di Majalah Remaja Muslim Edisi 08 April 2017

Sumber Gambar : tbjayaselalu.wordpress.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*