Si Mondoh dan Hutan Tanpa Nama

Oleh : Aprilian Ade Putra, S.Pd
Guru SMP Al Irsyad Al Islamiyah Purwokerto

Di Kalolo, sebuah hutan di tepian Pulau Jawa. Tersebutlah Mondoh, seekor kukang jantan Jawa paling tidak terkenal di kalangannya. Bahkan Popoh, temannya yang dianggap oleh Mondoh sebagai sahabat sejatinya juga kadang lupa namanya.

Suatu ketika mereka berpapasan di pinggir sungai.

“Hai Popoh!” sapa Mondoh dengan riang.

“Hai, Mon… Mon… Mon… Mona,” balas Popoh dengan ragu-ragu. Dalam hatinya dia mencoba meyakinkan dirinya kalau nama yang tadi dia sebut benar sebelum akhirnya…

“Aku Mondoh!” sanggah Mondoh tegas.

Mondoh sedikit berbeda dengan kukang pada umumnya. Tubuhnya gempal tak terbantahkan. Pipinya mencuat sekonyong-konyong. Itu karena dia kurang bergerak dan olah raga. Kerjanya hanya makan dan tidur.

Sendi-sendinya pun kaku tidak seperti kukang lain yang lentur dan gesit. Dia lamban. Gerakannya manja. Ya, dia kukang paling manja.

Kukang lain dapat bergelantungan, memanjat bebas, meliuk-liuk dan jungkir balik di pepohonan dengan lincah. Tapi Mondoh tidak, gerakan paling mahir yang dia kuasai selama dia hidup adalah berguling-guling tidak jelas di tanah lalu menabrak pohon, lalu buah dari pohon itu terjun indah menghantam wajahnya. Plak!

Hari ini bagai dua sisi mata uang yang berbeda baginya. Hari ini adalah penanda kalau dia sudah memasuki usia dewasa seperti impiannya selama ini. Mimpinya mentok sampai di situ di saat kukang lain bermimpi menjadi raja kukang, kukang sirkus dan impian hebat lainnya.

Hari ini pula adalah penanda kalau dia harus bersiap-siap pergi merantau ke hutan lain yang sangat jauh. Itu sudah menjadi tradisi di kalangan kukang sebagai salah satu rangkaian ritual kedewasaan mereka. Dia begitu khawatir akan hidupnya nanti di hutan lain.

Bagaimana mungkin kukang paling manja sejagad akan hidup sendirian tanpa orang-orang terdekat terutama kedua orang tuanya, Tuan Gogoh dan Nyonya Luluh.

Apa yang bisa dia lakukan? Makan buah pun kadang masih dikupaskan kulitnya dan disuapkan daging buahnya.

“Na…na…na… ayah sudah tahu hutan mana yang akan kamu tuju nanti nak. Hutan Agogo, salah satu hutan termasyhur. Penghuninya terkenal sangat baik dan makmur semuanya. Tidak ada satu pun orang jahat di sana,” kata tuan Gogoh sambil bersenandung dengan suara bisingnya.

“Benarkah itu, ayahku?” Mondoh minta diyakinkan lagi.

“Ya, anakku. Sesampainya di sana kau akan disambut bak pangeran dari kerajaan. Setiap harinya mereka akan membantu segala urusanmu seperti mencarikan pohon paling nyaman, menyuguhkan makanan, dan merawatmu dengan baik saat kamu sakit,” ujar Tuan Gogoh sambil menepuk pundak Mondoh yang lebih mirip perut.

Semua dipersiapkan dengan baik. Makanan, ramuan herbal anti berbagai macam penyakit, selimut sepuluh lapis antiserangga dan dingin, serta perkakas lainnya yang sepertinya agak berlebihan. Siapa lagi yang sebegitu detil kalau bukan Nyonya Luluh. Dia terlalu khawatir terhadap anaknya.

“Mondoh sayang, ibu akan menyiapkan hadiah yang sangat banyak untukmu ketika pulang nanti,” hibur Nyonya Luluh.

Dua hari kemudian, Mondoh pergi menuju Agogo. Dia diantar oleh Waone, seekor tupai baik hati yang juga akan merantau. Mereka menyelinap masuk ke dalam truk pengangkut kayu. Seterusnya menyelinap, berpindah-pindah ke kendaraan-kendaraan pengangkut barang sampai tujuan.

Mereka cukup beruntung karena tidak ketahuan sopir. Beberapa binatang ada yang ketahuan dan berakhir tragis sebagai peliharaan. Sebagian pula berakhir lebih tragis di dalam tudung saji.

Tiga hari kemudian, mereka sampai di sebuah hutan gelap. Waone pergi meninggalkan Mondoh karena dia harus pergi ke tujuan lain.

“Selamat berjuang, ya!” kata Waone sebelum pamit.

Selepas kepergian Waone, si Mondoh mulai memasuki hutan itu. Dia mencari nama Agogo untuk memastikan dia ada di hutan yang benar. Suasana hutan sangat sepi dan mencekam berbeda dengan yang dia bayangkan. Suara-suara penghuni hutan terdengar sangat jelas. Harimau, serigala, gagak adalah beberapa yang terdengar.

Dari kejauhan terdengar pula suara semacam genderang. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas. Tiba-tiba kawanan beruk dengan tubuh hampir seukuran manusia dewasa berlari menuju ke arahnya. Tubuh bongsornya membuat dia tidak bisa menghindar. Dia hanya bisa meringkuk pasrah dilewati puluhan beruk.

Setelah kawanan beruk itu berlalu, dia baru sadar kalau dia sudah terseret puluhan meter dari tempat tadi. Bekal makanan dan barang bawaan lainnya raib tanpa sisa. Dia menangis sepanjang jalan. Bulunya acak-acakan dan kotor seperti bulu kemoceng yang sudah digunakan puluhan tahun tanpa dicuci. Dia bertanya-tanya dalam hati, di mana penghuni hutan yang kata ayahnya akan menyambut dengan ramah.

Mondoh semakin yakin kalau hutan itu bukan Agogo, hutan yang ayahnya maksud. Hutan ini bahkan tidak memiliki nama. Mau tidak mau dia harus tinggal di dalamnya selama setahun ke depan. Itu pun kalau di bulan pertama dia berhasil tidak dilahap penghuni hutan atau terkubur di lumpur hidup. Kalau pun berhasil melewati bulan pertama, masih ada bulan kedua, ketiga, sampai kedua belas nanti.

Hal pertama yang harus dia lakukan adalah mencari pohon yang nyaman untuk tidur. Dia melihat-lihat sekitar dengan mata dan air mata manjanya. Tak lama, dia melihat pohon kokoh yang sepertinya nyaman. Ukurannya tidak terlalu besar.

Dia mulai mencoba memanjat dengan penuh perjuangan. Maklum selama ini dia memakai tangga untuk memanjat pohonnya. Saat sudah di tengah pohon, terdengar suara dari atas pohon, “Woi, turun kau!”

Seekor piton jumbo menampakkan diri dari daun-daun pohon. Sontak Mondoh kaget dan meluncur deras ke tanah. “Aw, punggungku, kepalaku,” Mondoh mengeram kesakitan. Matanya berkunang-kunang.

Mata Mondoh terbuka dengan alot. Kunang-kunang itu perlahan lenyap dari pandangannya dan tergantikan oleh kepala piton yang sudah tersanding di depannya. Ukuran kepalanya sedikit lebih kecil dari ukuran tubuh Mondoh. Matanya sangat tajam menatap Mondoh yang masih terbaring lunglai. Lidahnya hitam pekat menjulur hampir menyentuh kepala Mondoh.

“Ma… ma… maaf, tuan. Aku ti… tidak bermaksud mengganggu,” kata Mondoh terbata-bata.

“Beruntung kau musang. Aku sudah kenyang jadi tak perlu repot-repot melumatmu. Dan kau harus tahu wilayah ini milikku. Kau harus pergi satu kilometer dari sini kalau tidak ingin aku lumat lusa,” serobot piton.

Mondoh terpaksa harus hengkang dan berjalan kiloan meter ke dalam hutan. Hari sudah mulai gelap dan dia belum mendapat pohon juga. Terlihat mata-mata binatang sedang mengawasi dari pepohonan. Tidak ada satu pun yang peduli. Malah sepertinya mereka mengawasi untuk memangsanya.

Mondoh sesekali mencoba meminta belas kasihan binatang-binatang yang dia temui di jalan untuk sekadar numpang tidur di pohonnya. “Maaf tuan kera. Bolehkah aku numpang tidur di pohonmu?” pinta Mondoh pada seekor kera berbadan kekar.

“Apa? Numpang tidur? Pergi kau sebelum aku mencakar dan menggigitmu sampai terkena rabies!” ancam kera tadi.

Dunia begitu kejam. Tidak ada binatang baik. Semua jahat pikir Mondoh. Dia tidur di tanah dengan alas daun lebar yang kemudian menyebabkannya gatal-gatal keesokan harinya. Begitu nelangsa nasibnya.

Dua bulan sudah dia ada di hutan tanpa nama. Volume tubuhnya benar-benar menyusut. Semua jauh dari apa yang selama ini dia pikirkan. Tidak pernah ada binatang yang berbuat baik padanya. Hanya ada dua keadaan; tidak dianggap atau dijadikan buruan binatang lain.

Di suatu sore dengan gerimis tipis, Mondoh mencari buah untuk dimakan kalau kelaparan di malam hari. Dia melewati semak belukar dengan tinggi tiga kali tingginya. Di tengah jalan dia menabrak sesuatu yang keras dan berbulu. Dirabanya sesuatu itu.

“Mauuuuunngggg,” sesuatu itu mengaum keras. Suaranya begitu menggelegar. Sesuatu itu adalah harimau tua dengan bulu lebat.

Mondoh berlari sangat kencang dan memanjat sebuah pohon. Sampai di atas pohon dia menyundul benda sebesar bola sepak dan menyebabkannya jatuh. Tidak lama berselang, “Ngung….. ngung…,” puluhan lebah hutan mengerumuninya.

Bukannya bergegas turun karena terlalu panik, dia malah mengakar di atas sana. Dia seolah memberi sandi pada puluhan lebah itu untuk dapat menyengatnya gratis. Sampai akhirnya dia pingsan dan terjun bebas dengan indah ke semak-semak. Bruk!

Saat terbangun Mondoh sudah ada di sebuah gubuk kecil yang hangat. Dia mencoba bangun dengan tubuh yang masih bentol-bentol. “Jangan memaksakan bangun dulu,” tukas seekor binatang dengan suara berat tiba-tiba.

Mondoh kaget ternyata dia adalah harimau tua yang ditemuinya tadi. Sebelum dia berusaha kabur lagi, harimau tersebut berkata, “Tenang, aku tidak akan memangsamu. Aku hanya memindahkanmu ke tempat yang lebih baik,”

“Kenapa tuan peduli kepada aku?” tanya Mondoh. Dia masih ketakutan.

“Aku hanya merasa bersalah telah membuatmu takut,” jawab harimau.

“Mengapa tidak ada binatang baik di sini, tuan? Semuanya angkuh, tidak saling peduli dan membantu,” tanya Mondoh lagi.

“Di bumi ini pastinya banyak penghuni yang baik. Banyak sekali. Kalau kau tidak dapat menemukannya, jadilah satu di antaranya,” jawab harimau tua dengan bijak sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

Kata-kata harimau tua itu terus terngiang-ngiang di kepala Mondoh. Dia mulai berpikir mengapa dia tidak menjadi binatang baik saja.

Sejak saat itu dia mulai mencoba menjadi binatang baik. Setiap hari dia mengumpulkan buah-buahan berbagai jenis dari pagi menjelang malam. Keesokan harinya buah-buah itu dibagikannya secara cuma-cuma ke sebanyak mungkin penghuni hutan termasuk beruk, piton, dan kera yang pernah merugikannya. Itu dilakukan terus-menerus.

Dengan buah-buahan segar dari Mondoh tersaji gratis setiap harinya, binatang-binatang lain merasa sangat senang dan dipedulikan. Karena mereka merasakan senangnya diperhatikan, mereka juga mulai perhatian satu sama lain dengan melakukan hal yang sama. Mereka saling memberi dan menukar apa yang mereka punya. Semakin hari mereka semakin peduli dan mengasihi terhadap sesama penghuni hutan.

Lambat laun, perbuatan kecil Mondoh berdampak besar di hutan tanpa nama. Selain saling memberi, binatang-binatang juga saling membantu satu sama lain. Mereka membantu mendirikan rumah, menjenguk binatang yang sakit, dan perbuatan baik lainnya. Hutan yang tadinya sepi, muram dan mencekam kini menjadi hutan cerah dan ceria karena perbuatan-perbuatan baik semua penghuninya setiap hari.

***

Tidak terasa setahun berlalu. Mondoh harus pergi dan balik ke Kalolo. Dia berterimakasih dan berpamitan kepada penghuni hutan lain. Mereka sebenarnya tidak ingin dia pergi karena mereka tahu bahwa Mondoh sangat berperan dalam menjadikan hutan mereka menjadi lebih baik. Hampir semua binatang mengantarnya sampai ke ujung hutan dan memberikan banyak kenang-kenangan ke Mondoh.

Mondoh pulang dengan keadaan yang jauh berbeda. Tubuhnya sekarang ramping dan gesit. Dia menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Dia juga mulai bermimpi menjadi raja kukang nantinya. Dan dia akan selalu ingat apa kata harimau tua:

Di bumi ini banyak penghuni yang baik. Kalau tidak dapat menemukannya, jadilah satu di antaranya.[]


Sumber : Majalah Remaja Muslim Edisi 05 | Desember 2016

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*