Lia, Si Pengekor Sejati

Oleh : Rara Khenti, S.Si
Guru SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Sore itu jam menunjukkan 15.25 persis. Kondisi kelas sudah tak kondusif, anak-anak sudah ingin bergegas pulang kembali ke rumah masing-masing. Pelajaran Biologi, yang menjadi pelajaran terakhir masih berlangsung. Kala itu materi tentang pencemaran.

Ibu guru di depan kelas rupanya sudah menunjukkan wajah lelah akibat mengajar penuh sejak pagi tadi. Apalagi ditambah dengan kondisi kelas yang sudah tidak kondusif dan bisa dibilang juga pencemaran suara di kelas kami. Namun beliau tetap masih mau menerangkan materi sampai waktu habis.

Tak lama kemudian “Teng.. teng.. teng..,” bel kepulangan sekolah berdentang. Anak-anak di kelas bersorak serentak, “Hore pulang!!!”

Anak-anak di kelasku pun langsung bergegas memasukkan semua buku, pulpen dan pensil ke dalam tas masing-masing. Seperti biasa, Ibu guru mempersilakan ketua kelas memimpin doa sebelum pulang.

“Alisya, kamu mau pembinaan lomba enggak hari ini?” tanyaku pada Alisya.

“Iya, kan bentar lagi lomba. Kamu mau ikut lagi?” tanya Alisya, aku menggangguk.

“Hei Lia, kamu enggak dimarahi apa sama ibu guru ikutan pembinaan Alisya? Kemarin kan ikut pembinaan IPA bersamaku, lusa mau ikut Nadia pembinaan matematika, lah sekarang ikut Alisya pembinaan Bahasa Inggris. Sebenarnya buat apa, sih? Kan kamu nggak ikut lomba. Kamu tuh cuma tukang mengekor aja, tahu!” sindir Dea padaku.

“Dasar pengekor sejati,” imbuh Alma dan Risa.

Aku hanya bisa tertunduk, tak mau rasanya membumbui pernyataan dari teman-teman sekelasku itu. Buang waktu saja. Aku memang tak pandai, tak punya bakat khusus, nilai di kelas pun pas-pasan, aku hanya masuk peringkat pertengahan di kelas. Namun, semangat dalam diriku tak pernah tumbang untuk terus belajar agar aku bisa terpilih menjadi delegasi lomba.

Mimpiku ini mungkin tak seperti teman-teman yang lain, yang memimpikan jadi juara ini dan itu. Saya hanya ingin ikut lomba saja dulu. Asam-manis perlombaan belum pernah satu pun aku cicip. Oleh karena itu, aku rela setiap sore ikut teman-teman yang mengikuti pembinaan lomba dari para guru sampai aku dijuluki pengekor sejati. Bagiku, dukungan dan doa dari kedua orang tua sudah cukup untuk terus mengobarkan semangatku.

***

Esok harinya tampak seperti biasa, kecuali Ibu Guru Hasna menghampiriku, yang baru masuk area sekolah.

“Lia, kamu sudah dapat kabar kalau Alisya tadi malam kecelakaan?” tanya ibu Hasna.

“Innalillahi, terus sekarang keadaan Alisya bagaimana, Bu? Ada di rumah sakit mana?” jawabku mulai panik.

“Belum tau kabarnya, katanya lukanya cukup parah dan belum sadarkan diri sampai pagi tadi. Kalau mau, nanti sepulang sekolah ikut ibu saja menjenguk Alisya, bagaimana?” ajak Bu Hasna sambil menenangkan aku.

“Iya Bu, insyaallah,” jawabku.

***

Titik-titik embun pun masih meninggalkan jejak basah di dedaunan yang menghias pagar sekolah. Udara pagi terasa masih dingin saat kujejakkan kaki melewati gerbang sekolah seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi ini terasa agak hampa. Mungkin karena terbayang Alisya di rumah sakit. Alisya tetap teman yang murah senyum meski sedang sakit dan bibirnya tampak pucat.

Langkah kakiku berhenti, kulihat kerumunan siswa delegasi lomba sedang bersiap-siap. Kudatangi mereka dan kuberikan ucapan selamat berlomba. “Hei kalian mau lomba ya hari ini, semangat ya, semoga juara semuanya, Aamiin,” ucapku sambil menjabat tangan semua delegasi putri yang mau berangkat lomba.

Mereka tampak hebat, pikirku. Sayangnya Alisya tidak ada di antara mereka, dia terpaksa absen karena sakit.

Kutinggalkan mereka dan bergegas menuju kelas. Tetapi tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Lia, tunggu!” panggil Ibu Hasna. Aku pun berhenti dan melihat Ibu Hasna tampak berjalan terburu-buru.

“Lia, hari ini kamu ikut lomba ya menggantikan Alisya yang masih sakit, untuk surat izinnya sudah ibu buat dan sudah diobrolkan dengan Kepala Sekolah,” ucap Bu Hasna sambil menepuk-nepuk pundakku.

Rasanya seperti mimpi mendengar pemberitahuan itu. Aku ingin menangis bahagia, namun terbayang wajah Alisya yang masih sakit. Sambil mengucap syukur, aku berfkata dalam hati, “Aku harus berusaha agar tidak mengecewakan Alisya yang saya gantikan lombanya.”

***

“Ibu…, saya pulang bawa piala untuk ibu,” teriakku sambil melepas sepatuku di depan pintu rumah.

“Bagaimana bisa?” tanya ibuku dengan sedikit bingung.

“Saya pagi tadi diminta Ibu Hasna ikut lomba menggantikan Alisya yang masih sakit,” ceritaku pada ibu. Kemudian ibuku langsung memelukku dan terlihat bahagia, menciumku berkali-kali.

“Sempatkan ke rumah sakit, tunjukkan piala ini pada Hasna. Dia pasti senang, dia kan sahabatmu sejak kecil,” pesan ibu. Aku menggangguk sepakat.

Memang rencana Allah tak ada yang pernah tahu, aku yang hanya bermimpi dapat sekadar ikut lomba, ternyata Allah memberi lebih sehingga aku berhasil membawa pulang piala.

Terimakasih ibu yang selalu mendukung dan mendoakanku, juga Alisya temanku yang senang belajar bersamaku. Dulu aku memang pengekor sejati, namun kini aku berhasil meraih prestasi.[]


Pernah dimuat di Majalah Remaja Muslim Edisi 08 April 2017

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*