Ketegangan Jelang Pengumuman OSIS Baru

Seleksi ketat dan lumayan panjang telah dilalui para calon pengurus OSIS, sejal awal Oktober. Dimulai dari seleksi administrasi, siswa diwajibkan nilai LPS (tengah semester) di atas rata-rata kelas. Capaian hafalan Alquran minimal standar. Selain itu juga siswa berakhlak baik dan direkomendasikan wali kelas.

Tes seleksi dibagi dua tahap. Pertama, Kamis 11 Oktober seleksi orasi atau pidato singkat di depan guru dan tes tulis. Dari 91 peserta seleksi tahap I diambil 60.

Seleksi tahap II uji kepribadian dalam 6 pos (tarhib, keterlambatan, pustakawan, membersihkan kamar mandi, berjualan, dan wawancara orang tua dan guru). Pos tarhib menyambut kedatangan siswa dan guru dengan bersalaman sedangkan pos keterlambatan mencatat siswa terlambat.

Pada pos berjualan, siswa menjual 10 potong kue dalam waktu 6.30-7.00. Pada pos pustakawan, siswa yang jarang meminjam buku di perpustakaan mendapatlan nilai yang kecil pula. Dalam kegiatan wawancara, siswa menggali pendapat orang tua dan guru terhadap kegiatan siswa.

Semua tugas dilaporkan dalam buku pantauan. Tambah 1 tantangan lagi, pidato di kelas kakak tingkat 3-4 menit dengan penilaian dari guru, kakak kelas, dan panitia. Selain memberikan tantangan baru bagi para peserta, pidato adik kelas ini lumayan diminati kakak-kakak kelas mereka. Selain seru, mereka mendapatkan nasihat dari cara yang berbeda.

Perjuangan keras peserta dihitung secara detail oleh pengurus OSIS lama sebagai panitia, ditambah rekomendasi dan pertimbangan dari dewan guru, khususnya wali kelas dan BK. Akhirnya, dalam seleksi tahap II ini terjaring 41 anak, 20 putra dan 21 putri untuk menempati posisi pengurus inti dan 8 bidang kegiatan, putra dan putri terpisah.

Tepat 6.50-07.35, Sabtu 19 Oktober, pembina OSIS bersama Waka kesiswaan memimpin sidang penentuan anak-anak itu. Tarik ulur dan timbang sana timbang sini, untuk menentukan siapa yang terbaik dan pas. Misal, ada peserta yang sangat antusias dan nilai bagus, tetapi capaian hafalan Alquran masih lemah. Forum sepakat menolak. Bagi kelas 7, diarahkan untuk mendaftar lagi tahun depan.

Saat pengumuman ditempel siang itu, wali kelas ikut merasakan ketegangan. Sebagian siswa yang tidak lolos pun menangis.

Rupanya, ketegangan masih bersambung, Senin pagi, saatnya sidang musyawarah pemilihan ketua osis. Ini tahun kedua kami mengadakan sistem syuro, bukan pencoblosan. Dengan pertimbangan mencontoh cara sahabat nabi.

Dari tiga calon putra dan tiga putri, diputuskan salah satu menjadii ketua OSIS dalam musyawarah. Peserta musyawarah meliputi pengurus OSIS terpilih, pengurus OSIS lama kelas 9, dan para ketua kelas 7 sampai 9. Mereka akan praktik musyawarah untuk mufakat.


Alhamdulillah, hari Senin, 22 Oktober 2018, forum musyawarah memutuskan ketua OSIS putra M. Haris Dwiputra H. dan ketua OSIS putri Hasna Amelia. Selamat menjalankan amanah. Moga sukses. Amin….
(Min)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*