Bisa karena Terbiasa, Lancar karena Doa

Oleh : Diana Tri Rahayu, S.Pd
Guru SMP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Mengenal Lasya Al Imani Fielsa Wastam
Jagoan Bahasa Inggris dari SMP Al Irsyad

Bagi beberapa orang, pelajaran bahasa Inggris adalah hal yang sulit dipahami. Selain jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, istilah yang aneh dan asing bahasa Inggris kerap menjadi alasan untuk malas belajar bahasa Inggris. Belum lagi pelafalan struktur huruf yang berbeda membuat lidah merasa kesulitan, bahkan serasa hampir terpelintir.

Lasya Al Imani Fielsa Wastam dulunya juga tidak suka belajar bahasa Inggris. Namun, tampaknya para guru telah melihat potensi Lasya sejak Lasya masih duduk di bangku SD Al Irsyad Al Islamiyyah 01 Purwokerto. Bahkan, sekolah mengajaknya untuk mengikuti Lomba Pidato Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh International College. Lasya pun berhasil meraih juara 3 di lomba yang pertama kali diikutinya itu.

Itulah awal yang sangat berkesan bagi gadis kelahiran Banyumas, 23 April 2003 ini. Dia  merasa mendapatkan motivasi lebih untuk belajar bahasa Inggris. Dia pun memilih belajar di rumah bersama guru lesnya daripada bermain di luar bersama teman-teman seusianya. Lasya mulai aktif untuk mengikuti lomba yang lain. Walau ia belum tahu apa itu Story Telling, tetapi setelah dicoba ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Saat SD, Lasya merasa bisa menjiwai isi cerita sehingga pernah mendapat juara 2 Story Telling di SMP N 2 tahun 2015, Juara 1 Story Telling di Open House SMP Al Irsyad Al Islamiyyah tahun 2015.

Kini setelah masuk di SMP Al Irsyad Al Islamiyyah, Lasya merasa punya banyak kesempatan mendalami bahasa Inggris, termasuk melalui jam tambahan dalam program Bina Prestasi (Binpres). Tak ayal, ia pun kembali mendulang prestasi. Diantaranya, Juara 1 Story Telling di SMA N 1 Ajibarang tahun 2016, Juara 1 Story Telling di SMA N 1 Purwokerto tahun 2016, Juara 1 Story Telling di Tasikmalaya tahun 2016, dan Juara 1 Story Telling di SMA Muhammadiyah 1 tahun 2016.

Dari banyak lomba yang telah dijuarainya, bahasa Inggris telah melekat dalam diri gadis pemberani ini. “Karena terbiasa, jadi setiap kali akan lomba, serasa tidak ada beban. Tapi yang sulit adalah menjiwai isi dan makna teks itu,” ujarnya.

Belajar dengan keras, yakin dengan kemampuan diri dan mendapat dukungan penuh dari orang tua merupakan resep keberhasilan Lasya. Baginya, motivasi terbesar datang dari dukungan ayah dan ibunya.

Tak hanya itu, meluruskan niat dan berdoa sebelum berangkat lomba sangatlah penting baginya. Itu adalah nasihat ibunya yang senantiasa dia amalkan. “Bukan apa-apa. Tapi buat kelancaran aja,” ujar Lasya sambil menirukan gaya bicara Ibunya.

Pernah dalam lomba yang diadakan di SMA 1 Muhammadiyah Purwokerto, Lasya lupa berdoa. Sehingga ia sempat merasa hilang konsentrasi, takut, khawatir, dan pesimis. Lalu, dia sadar bahwa tidak ada kata terlambat untuk berdoa meminta pertolongan Allah. Lasya memanfaatkan waktu sesaat sebelum naik panggung untuk berdoa.

Alhamdulillah, Allah menghapus rasa pesimis dan membuatnya lancar dalam bercerita menggunakan bahasa Inggris yang bukan bahasa kesehariannya. Lasya pun berhasil meraih juara 1.

Melalui kemampuan bahasa Inggris, Lasya menguatkan dirinya untuk terus melanglang mengikuti lomba di berbagai kota. Ia selalu mengingat nasihat ibunya, bahwa di mana pun dan kapan pun yang penting itu adalah ingat kepada Allah, berdoa, dan berusaha. Dari itulah, ia tetap rendah hati walau berbagai prestasi telah ia raih.[]


Sumber : Majalah Remaja Muslim Edisi 05 | Desember 2016

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*